Wednesday, April 24, 2013

KAPITALISME: PEMIKIRAN DAN DOKTRIN - DOKTRINYA

KAPITALISME, LIBERELISME: PEMIKIRAN DAN DOKTRIN - DOKTRINYA
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pola pikir serta cara pandang manusia terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat berbagai ideologi dan fungsi ideologi. Adapun ideologi terdiri dari (ideologi: Kapitalisme, Liberalisme, Konservatisme, Sosialisme, dan Pancasila), namun pembahasan kali ini yaitu ideologi Kapitalisme dan Liberalisme.
Ideologi datang dari bahasa yunani yakni idea dan logia, idea datang dari idein yang bermakna lihat. idea juga diartikan suatu hal yang ada didalam pikiran jadi hasil perumusan suatu hal pemikiran atau gagasan. Kata logia mengandung arti ilmu dan pengetahuan atau teori, masih kata logis datang dari kata logos dari kata legein yakni bicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh antoine destutt de tracy (1754 – 1836), saat bergejolaknya revolusi prancis untuk mendefinisikan sains perihal inspirasi. Jadi bisa disimpulkan dengan bahasa, ideologi yaitu pengucapan atau pengutaraan terhadap suatu hal yang terumus didalam pikiran. Didalam tinjauan terminologis, langkah hidup/ perilaku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat spesifik dari seorang individu atau satu kelas.

Pemikiran Kapitalis
K
apitalisme berasal dari kata kapital, yang artinya modal. Kapitalisme merupakan suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal dapat melaksanakan usahanya yang meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kapitalisme memiliki anggapan bahwa modal merupakan satu-satunya unsur untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
Pengikut kapitalisme menganggap bahwa modal dapat menghasilkan lebih banyak kekayaan.
 
 
Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari fisafat Romawi Kuno. Hal itu muncul pada ambisinya utk memiliki kekuatan dan meluaskan pengaruh serta kekuasaan.
Kapitalisme berkembang secara bertahap dari feodalisme bourgeoisme sampai kepada kapitalisme. Selama proses itu berlangsung telah berkembang berbagai pemikiran dan idiologi yg melanda dalam arus yg mengarah kepada pengukuhan hak milik pribadi dan seruan kebebasan.
Pada dasarnya kapitalisme tegak di atas pemikiran aliran bebas dan aliran klasik.
Pemikiran dan pandangan yg muncul akibat revolusi industri di Eropa berperan menonjol dalam membatasi gejala-gejala kapitalisme. Kapitalisme menyeru dan membela liberalisme. Tetapi kebebasan politik telah berubah menjadi kebabasan moral dan sosial. Selanjutnya berubah menjadi permisifisme.
Berkaitan dengan itu, pada mulanya di zaman refolusi Perancis mereka (kaum kapitalis) memperjuangkan kepentingan kapitalis atau borjuis di dalam parlemen Perancis dikarenakan adanya intervensi pemerintah dalam urusan Negara dalam hal ini kaitanya dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Adam Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan Negara.
3 faktor utama sistem kapitalis: pasar bebas, kebebasan individual, dan demokrasi.
Sejarah Kapitalis
Sistem kapitalisme, menurut Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan “laissez faire”1) dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan negara (Robert Lerner, 1988).

Terjadilah Revolusi Perancis pada tahun 1789

Para kapitalis saat itu diserang oleh rakyat. Sebelumnya mereka dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda  milik pribadi, terutama barang modal seperti tanah maupun manusia. Hal tersebut berguna dalam proses perubahan dari barang modal menjadi barang jadi.
Awal abad 20 kapitalisme menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan. Munculnya kerajaan-kerajaan industri cenderung menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan.
Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme.
Habermas memandang transformasi itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal kepada kapitalisme lanjut (late capitalism. organized capitalism, advanced capitalism).
Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebutkan bahwa state regulated capitalism (nama lain kapitalisme lanjut) mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi
ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar.

Tokoh Kapitalis

Saat menganalisis, tokoh bisa dilihat dari dua sudut pandang: tokoh sebagai individual dan sebagai anggota masyarakat


Tokoh dalam karya sastra tradisional memilii fungsi mimesis yang menggambarkan manusia yang sebenarnya. Dalam aspek referensialnya, tokoh mempunyai nama, ciri-ciri fisik dan mental, serta hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Tokoh sebagai anggota masyarakat mengharuskan pembaca memperhatikan masalah kultural dan sosiohistoris yang terdapat dalam teks. Yang dapat dianggap sebagai fakta kultural dan sosiohistoris adalah peristiwa atau fenemona yang berkaitan dengan kolektivitas atau individu yang mewakili kolektivitas. Ini memang tidak mudah, karena menguak fakta kultural dan sosiohistoris, menurut Zaimar (2008: 34) akan menghadapi beberapa kesulitan, seperti sifat ganda dalam hubungan antara masyarakat dan teks, bahasa yang digunakan berkaitan dengan keadaan tertentu suatu masyarakat, dan ideologi yang melatari penggambaran tentang suatu masyarakat.
Adam Smith adalah seorang tokoh ekonomi kapitalis klasik. Ia menganggap merkantilisme kurang mendukung ekonomi masyarakat.
Merkantilisme merupakan sebuah sistem ekonomi untuk menyatukan dan meningkatkan kekayaan keuangan suatu bangsa, dengan pengaturan seluruh ekonomi nasional oleh pemerintah dengan kebijaksanaan.
Beberapa tokoh mengatakan kapitalisme sebagai ideologi harus dibedakan dengan kapitalisme sebagai fenomena. Yang pertama mengacu kepada  kepemilikan pribadi atas barang modal dan yang kedua lebih kepada kerangka filosofis  yang mendukung sistem tersebut.
Menurut penulis, dikotomi ini tidak jelas. Sebagaimana yang kita bicarakan bahwa, kapitalisme sebagai ideologi dan sebagai fenomena sukar dipisahkan.



No comments:

Post a Comment