KAPITALISME,
LIBERELISME: PEMIKIRAN DAN DOKTRIN - DOKTRINYA
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pola pikir serta
cara pandang manusia terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, terdapat
berbagai ideologi dan fungsi ideologi. Adapun ideologi terdiri
dari (ideologi: Kapitalisme, Liberalisme, Konservatisme,
Sosialisme, dan Pancasila), namun pembahasan kali ini yaitu
ideologi Kapitalisme dan Liberalisme.
Ideologi
datang dari bahasa yunani yakni idea dan logia, idea datang dari idein yang
bermakna lihat. idea juga diartikan suatu hal yang ada didalam pikiran jadi
hasil perumusan suatu hal pemikiran atau gagasan. Kata logia mengandung arti
ilmu dan pengetahuan atau teori, masih kata logis datang dari kata logos dari
kata legein yakni bicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan
oleh antoine destutt de tracy (1754 – 1836), saat bergejolaknya revolusi
prancis untuk mendefinisikan sains perihal inspirasi. Jadi bisa disimpulkan
dengan bahasa, ideologi yaitu pengucapan atau pengutaraan terhadap suatu hal
yang terumus didalam pikiran. Didalam tinjauan terminologis, langkah hidup/
perilaku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat spesifik dari seorang
individu atau satu kelas.
Pemikiran Kapitalis
|
K
|
apitalisme berasal dari
kata kapital, yang artinya modal. Kapitalisme merupakan
suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal dapat melaksanakan usahanya yang
meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kapitalisme
memiliki anggapan bahwa modal merupakan satu-satunya unsur untuk perkembangan
dan pertumbuhan ekonomi
Pengikut kapitalisme menganggap bahwa modal
dapat menghasilkan lebih banyak kekayaan.
Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari
fisafat Romawi Kuno. Hal itu muncul pada ambisinya utk memiliki kekuatan dan
meluaskan pengaruh serta kekuasaan.
Kapitalisme
berkembang secara bertahap dari feodalisme bourgeoisme sampai kepada
kapitalisme. Selama proses itu berlangsung telah berkembang berbagai pemikiran
dan idiologi yg melanda dalam arus yg mengarah kepada pengukuhan hak milik
pribadi dan seruan kebebasan.
Pada
dasarnya kapitalisme tegak di atas pemikiran aliran bebas dan aliran klasik.
Pemikiran
dan pandangan yg muncul akibat revolusi industri di Eropa berperan menonjol
dalam membatasi gejala-gejala kapitalisme. Kapitalisme menyeru dan membela liberalisme.
Tetapi kebebasan politik telah berubah menjadi kebabasan moral dan sosial.
Selanjutnya berubah menjadi permisifisme.
Berkaitan
dengan itu,
pada mulanya di zaman refolusi Perancis mereka (kaum kapitalis) memperjuangkan
kepentingan kapitalis atau borjuis di dalam parlemen Perancis dikarenakan adanya
intervensi pemerintah dalam urusan Negara dalam hal ini kaitanya dengan tingkat
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Adam
Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah
dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka
sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan Negara.
3 faktor utama sistem kapitalis:
pasar bebas, kebebasan individual, dan demokrasi.
Sejarah Kapitalis
Sistem
kapitalisme, menurut Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18
M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara.
Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai
tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan “laissez faire”1)
dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi
pemerintah dalam urusan negara. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik
untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar
kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan
negara (Robert Lerner, 1988).
Terjadilah Revolusi
Perancis pada tahun 1789
Awal abad 20 kapitalisme menghadapi
berbagai tekanan dan ketegangan. Munculnya kerajaan-kerajaan industri cenderung
menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh
segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi
mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang
anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan.
Fenomena intervensi negara
terhadap sistem pasar merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme.
Habermas memandang transformasi
itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal kepada kapitalisme lanjut (late
capitalism. organized capitalism, advanced capitalism).
Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas
menyebutkan bahwa state regulated capitalism (nama lain kapitalisme lanjut)
mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi
ekonomi seperti
korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar
oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar.
Tokoh
Kapitalis
Saat menganalisis, tokoh bisa dilihat dari dua
sudut pandang: tokoh sebagai individual dan sebagai anggota masyarakat
Tokoh
dalam karya sastra tradisional memilii fungsi mimesis yang menggambarkan
manusia yang sebenarnya. Dalam aspek referensialnya, tokoh mempunyai nama,
ciri-ciri fisik dan mental, serta hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Tokoh
sebagai anggota masyarakat mengharuskan pembaca memperhatikan masalah kultural
dan sosiohistoris yang terdapat dalam teks. Yang dapat dianggap sebagai fakta
kultural dan sosiohistoris adalah peristiwa atau fenemona yang berkaitan dengan
kolektivitas atau individu yang mewakili kolektivitas. Ini memang tidak mudah,
karena menguak fakta kultural dan sosiohistoris, menurut Zaimar (2008: 34) akan
menghadapi beberapa kesulitan, seperti sifat ganda dalam hubungan antara
masyarakat dan teks, bahasa yang digunakan berkaitan dengan keadaan tertentu
suatu masyarakat, dan ideologi yang melatari penggambaran tentang suatu
masyarakat.
Merkantilisme merupakan sebuah sistem ekonomi untuk
menyatukan dan meningkatkan kekayaan keuangan suatu bangsa, dengan pengaturan
seluruh ekonomi nasional oleh pemerintah dengan kebijaksanaan.
Beberapa tokoh mengatakan
kapitalisme sebagai ideologi harus dibedakan dengan kapitalisme sebagai fenomena.
Yang pertama mengacu kepada kepemilikan
pribadi atas barang modal dan yang kedua lebih kepada kerangka filosofis yang mendukung sistem tersebut.
Menurut penulis, dikotomi ini tidak
jelas. Sebagaimana yang kita bicarakan bahwa, kapitalisme sebagai ideologi dan sebagai
fenomena sukar dipisahkan.
No comments:
Post a Comment