Thursday, November 22, 2012

Awal Perjalanan Menjadi Mahasiswa


Berawal dari harapan suatu keluarga yang berharap kelak anaknya dapat hidup layak, di mana pendidikan dijadikan sebagai dasar postulat yang akan membawanya kedepan pintu gerbang menuju kesejahteraan. Disinilah kegelisahan itu berawal, perubahan 'jabatan' dari siswa menjadi mahasiswa seolah menjadi kesenangan tersendri tanpa beban dan tanggung jawab. Yang awalnya setiap hari harus menjalani rutinitas di sekolah, dari pagi hingga sore hari dengan pelajaran yang sudah dibakukan menjadi kurikulum, berpakaian seragam. Seketika frasa MAHA ini membuat semua berubah. Dengan waktu kuliah yang tidak ber-pakem lagi, tanpa seragam, tanpa kurikulum dan paksaan dari seorang pengajar untuk ikut menghadiri kelas.



Namun, diluar sekenario kehidupan mahasiswa yang bebas, adanya tanggung jawab terhadap diri sendiri, bisa memilih jalan yang bagaimana untuk menjalani kehidupan mereka, dan segala pernak-pernik yang menghiasi kehidupan mereka, cinta dan aksi.

Ada juga suatu hal yang tak akan pernah bisa dimengerti sebelum menjadi mahasiswa itu sendiri.

Idealisme, suatu kata yang begitu sakral bagi sebagaian dari mereka yang akan menghiasi jalan kehidupan mereka menuju kampus untuk menuntut ilmu, dan menuju ke jalan untuk menuntut keadilan. Yang seperti menjadi harga mutlak bagi setiap mahasiswa untuk memilikinya. Menjadi napas kehidupan dan indikasi adanya denyut pergerakan di kampus perjuangan. Apakah hanya itu artian idealisme? mahasiswa adalah raga yang dijiwai idealisme atau itulah yang seharusnya. Akan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa saat mereka mampu mengusung panji-panji perjuangan berlandaskan idealisme yang mereka anut. Idealisme-lah yang membawa mereka di puncak pencapaian prestasi, dan idealisme pula-lah yang membuat mereka turun ke jalan memperjuangkan keadilan dan kemakmuran rakyat di negeri ini.

Jadi, seorang mahasiswa bukanlah sekedar robot yang selalu menjalankan rutinitas yang sama setiap saat. Dimana mereka tidak benar-benar mengerti tentang apa yang mereka kerjakan dan untuk apa mereka melakukan itu. Mahaiswa seharusnya bukanlah seperti remaja laki-perempuan di dalam sinetron di televisi yang memberi prosentase 90% untuk cerita cinta mereka sebagai muda-mudi dan 10% untuk belajar. Namun bukan pula orang-orang anarkis yang begitu gemar adu fisik dengan polisi pada saat melakukan unjuk rasa. Mahasiswa yang sesungguhnya bukanlah pemain sinetron, karena hidup mereka di dunia nyata dimana banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekedar disibukkan dengan konflik percintaan mereka, yaitu membangkitkan diri untuk berprestasi dan membawa kebermanfaatan bagi lingkungan mereka. Dan juga bukan manusia bar-bar yang terlalu senang mengungkapkan opini mereka dengan tindakan fisik, karena mahasiswa diajarkan untuk berdiplomasi SELAMA ITU MASIH MUNGKIN.

Namun pertanyaan yang sesungguhnya adalah, mampukah kita mempertahankan idealisme kita disaat iming-iming kehidupan ‘makmur’ berada di hadapan kita dan siap sedia berada di dalam genggaman tangan asalkan kita mau menukar idealisme itu dengan berbagai rupa bentuk penghianatan terhadap suatu idealisme. KKN, penipuan, bahkan tindakan kriminal sekalipun banyak dilakukan oleh orang-orang ‘terhormat’ yang dulunya aktif sebagai aktivis yang mengumbar idealism untuk melawan ‘hadiah’ dari zaman Orde Baru berupa korupsi, kolusi dan nepotisme. Melihat hal seperti itu membukakan mata saya bahwa tantangan yang sesungguhnya adalah bukan bagaimana kita bisa memiliki suatu idealisme yang kuat. Tapi bagaimana kita mempertahankan idealism itu tetap kuat disaat kita memiliki kekuasaan dan berada di lingkungan dimana idealisme bisa dengan mudah digadaikan. Itulah tantangan yang sebenarnya.

Besar harapan keberadaan kita menjadi salah satu bagian dari pemuda mampu memberikan sumbangsih yang membawa kebermanfaatan untuk diri secara pribadi, orang lain, negara dan agama. terkesan klise memang tapi juga bukan kesalahan untuk kita memiliki pemikiran seperti itu.

1 comment:

  1. Casinos - Pros & Cons of Casino Gambling
    In any casino gambling you place 아 샤벳 the first bet 토토배당률 on the house and the 블랙잭 second bet the 스포츠 배팅 player gets a big hit. You 해외 안전 놀이터 could have started with an early sign up offer

    ReplyDelete